Selasa, 21 Juli 2015

SEMUA SUDAH TERLAMBAT



SEMUA SUDAH TERLAMBAT 




 kali ini aku akan bercerita tentang teman aku berusia 25 tahun saat kisah ini terjadi. Kisah dia mungkin klise, dia jatuh cinta pada seorang wanita bernama khoir. Dia adalah kakak kelasku saat kami masih sekolah di SMA yang sama. Saat kelas tiga, dia pindah ke kota lain. Tetapi takdir mempertemukan dia kembali di kampus yang sama, saat kami menempuh kuliah S2. Ada satu hal yang selalu dia simpan dalam hatinya, dia jatuh cinta padanya. Sejak masih duduk di bangku SMA, aku selalu curi-curi pandang ketika jam istirahat. Kadang aku sengaja pamit ke toilet hanya untuk melihatnya bermain basket saat kelasnya ada pelajaran olahraga. Walaupun hanya menatapnya selama 5 menit, rasanya kebahagiaanku penuh sepanjang hari. ( curhatnya pada aku ) Remaja selalu malu-malu mengungkapkan isi hatinya, apalagi aku yang memang punya sifat pemalu. Hampir tidak ada sinyal cinta yang aku kirim padanya. Dia tidak seberani teman-temannya yang bisa titip salam atau terang-terangan mengatakan suka pada cewel yang mereka suka. Jadilah dia memendam perasaannya.
Mungkin ini masih cinta monyet, yang akan memudar seiring berjalannya waktu. Dan suatu saat kelak, dia akan benar-benar jatuh cinta di tingkat yang lebih serius dengan wanita lain. Nyatanya perkiraan dia salah. Walaupun saat kuliah S1 dia sempat berpacaran dengan wanita lain (namanya amel), dia tetap meletakkan kenangan akan khoir dalam hatiku. Singkat cerita, saat dia mengambil S2, dia bertemu lagi dengan Khoir. Takdir tersebut membawa dia pada rahasia yang terpendam. Hatiku kembali berdetak, kembali merasakan indahnya jatuh cinta hanya dengan menatap kedua matanya. Perasaan yang tidak pernah aku rasakan dengan Amel. Beberapa kali kami berada di kelas yang sama. Dia masih Khoir yang ramah dan suka bercanda. Hubungan mereka tetap dekat, tapi tetap saja, tidak ada keberanian untuk mengungkapkan rasa cinta dia padanya. Bagaimana dia bisa menyatakan perasaannya, ada Amel yang masih menjadi pacarnya. Egois memang, dia bahkan sering merasa bersalah pada Amel, tapi dia tidak bisa membohongi hatinya. Jika saja Khoir mengajak dia untuk jadi kekasihnya, atau bahkan istrinya, dia tidak akan menolak.

Sayangnya, takdir yang mempertemukan mereka harus berakhir. Suatu hari, di sebuah musim penghujan di akhir bulan Desember, Khoir mengalami kecelakaan. Dua hari dia dirawat di UGD, tetapi nyawanya tidak tertolong. Dia pergi selama-lamanya. Dunia teman ku terasa hancur, setiap inci tubuhnya menjerit akan kepergiannya, dia bahkan tidak bisa lagi merasakan sakitnya hatinya, seolah ada bagian tubuhku yang hilang, jika diibaratkan, dia bagai guci yang pecah berkeping-keping. dia hadir dalam pemakamannya. dia hadir dalam setiap acara doa yang dilakukan keluarganya setiap malam. Di duka yang teramat sangat, ibu Khoir memintaku untuk menemaninya, setelah para tamu pulang.
"Mbak, mbak ini temannya Khoir yang namanya Sofwan kan?" ujar wanita tua itu. Aku bisa melihat ada duka mendalam di balik senyumnya. Dia mengangguk, lalu wanita itu mengajakku ke sebuah ruangan, yang menurutnya adalah kamar Khoir. Wanita itu menceritakan sebuah rahasia yang tidak Dia ketahui.
"Anak ibu.. Khoir, dia pernah bilang bahwa dia suka dengan Sofwan, cinta," lanjutnya.
Detik demi detik berlalu, aku mendengarkan pengakuan ibu Panji bahwa putranya ternyata memendam rahasia. Ternyata selama ini Khoir melakukan hal yang sama dengan Dia, diam-diam merahasiakan perasaannya. Bahkan sejak masih di bangku SMA.
"Waktu itu Khoir pernah bilang, sekarang sofwan sudah punya pacar, mungkin harus menunggu nak Khoir putus dulu, baru dia berani jujur," lanjut ibu Khoir dengan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. dia tidak bisa menahan air mataku, Dia menangis di dalam pelukan ibu Khoir. Dia menangis hingga dadanya terasa ingin meledak. Dia menyesal, sangat menyesal. Dia tidak sempat mengatakan bagaimana perasaannya padanya. Hingga detik ini, penyesalan itu masih ada. Masih mengganjal di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Rasanya bahkan jauh lebih berat dibandingkan saat Panji masih hidup.

Dia bisa mendengar doa-doanya tiap malam, Khoir? Aku merindukanmu.

"jangan pernah pendam rasa cintamu , sebelum menyesal di kemudian hari"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About